Tampilkan postingan dengan label Hikmah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hikmah. Tampilkan semua postingan

Selasa, 07 Juni 2011

Penyelam Mutiara

Perjalanan hidup manusia tidak ubahnya bagaikan kisah penyelam mutiara. Seorang penyelam mutiara, dalam melaksanakan tugasnya selalu dibekali dengan tabung oksigen yang terpasang dipunggungnya. Pada saat ia terjun menyelam, niatnya bulat ingin mencari tiram mutiara sebanyak-banyaknya. Tetapi begitu ia berada di bawah permukaan, ia mulai lupa pada apa yang harus dicarinya. Kenapa? Ternyata pemandangan di dalam laut sangat mempesona. Bunga karang yang melambai-lambai seolah-olah memanggilnya; ikan-ikan hias berwarna-warni yang saling berkejaran dengan riangnya membuatnya terpana. Ia pun lalu terlena ikut bercanda ria, melupakan tugasnya semula untuk mencari tiram yang berada jauh didasar laut sana.

Hingga pada suatu saat, dia terkejut mana kala disadarinya oksigen yang berada dipunggungnya tinggal sedikit lagi. Timbullah rasa takutnya. Tak terbayangkan olehnya bagaimana kemarahan majikannya kelak bila ia muncul kepermukaan tanpa membawa tiram mutiara sebanyak yang diharapkan. Maka dengan tergopoh-gopoh ia pun berusaha untuk mencari tiram mutiara yang ada di sekitarnya. Namun sayang, kekuatan fisiknya sudah melemah, energinya sudah habis terkuras bercanda ria dengan keindahan bawah laut.

Akhirnya isi tabung oksigennya benar-benar kosong, sehingga walaupun tiram mutiara yang diperolehnya sangat sedikit, ia mau tidak mau harus muncul ke permukaan. Malangnya lagi, karena tergesa-gesa dia tidak sempat mengikat kantongnya dengan baik, sehingga ketika tersenggol ikan yang berseliweran di sampingnya, tiram mutiara yang sudah di dapatnya dengan susah payah itu sebagian tertumpah ke luar.

Di permukaan, majikannya telah menunggu. Begitu dilihatnya isi kantong si penyelam tidak berisi tiram mutiara sebagaimana yang ia harapkan, maka tumpahlah caci makinya; dan saat itu juga si penyelam dipecatnya tanpa pesangon sedikitpun! Tentu saja bisa kita bayangkan gundahnya perasaan si penyelam!

Dengan penuh rasa penyesalan, si penyelam berusaha meminta kesempatan ulang untuk menyelam kembali, “Tuan, ijinkanlah aku untuk menyelam kembali, pasti aku akan mencari tiram mutiara sebanyak-banyaknya!” Namun majikannya dengan tegas menolak, “Percuma engkau aku beri kesempatan, ternyata engkau hanya pandai membuang-buang oksigen saja!”.

Kisah ini amat mirip dengan perjalanan hidup manusia di dunia. Tabung oksigen adalah perlambang jatah umur manusia; tiram mutiara mengibaratkan pahala yang harus kita kumpulkan; dan tiram mutiara yang tumpah mengumpamakan pahala yang hilang karena riya’; sedangkan keindahan yang ada di dalam lautan melambangkan godaan-godaan kenikmatan duniawi dengan harta, tahta dan wanitanya!

Marilah kita instrofeksi, sudah cukupkah tiram mutiara yang kita peroleh, sehingga bila suatu saat kita muncul ke permukaan menemui majikan kita, ALLOH SWT, Ia ridha menerima kita ... Apalagi Ia berfirman dalam surat Al-Ankabuut : 64 : “Tidaklah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main, sesungguhnya akhirat itulah yang sebenar-benarnya kehidupan”.

(Inspirasi: Sentuhan Kalbu, Ir. Permadi Alibasyah)

(Untuk sahabat, sebagai bahan renungan menjelang milad yang ke-35 / 21 Juni 2011. Semoga tulisan ini menjadi energy positif untuk berbuat lebih baik lagi bagi keluarga, suami, anak-anaknya yang cantik, dan orang-orang disekitarnya. Amien...)

Jumat, 10 April 2009

BERSEDEKAH DALAM KELAPARAN

Hasan dan Husen (kedua cucu Rasululloh saw) pada suatu saat jatuh sakit. Kedua orang tuanya, Ali dan Fatimah serta pengasuhnya Fiddhah, sangat khawatir. Mereka bernazar, “akan puasa selama tiga hari, bila Alloh mnyembuhkannya”.
Setelah keduanya sembuh, ketiganya pun mulai berpuasa. Sementara di rumah itu tak ada makanan sedikitpun buat berbuka dan sahur. Ali meminjam tiga mangkok gandum pada sahabatnya. Hari pertama puasa, Fatimah menepungnya semangkok dan langsung dibuatnya roti untuk berbuka.

Ketika azan maghrib bergema, Ali, Fatimah, dan Fiddhah duduk mengelilingi hidangan yang hanya beberapa potong roti dan air saja. Waktu hendak berbuka, tiba-tiba pintu rumah diketuk orang. Ternyata lelaki miskin yang mohon uluran tangan. Semua roti itu mereka berikan kepadanya. Semalaman sejak berbuka sampai sahur, tak satupun makanan yang masuk ke perut selain hanya air saja. Besoknya mereka kembali berpuasa. Fatimah menepung lagi semangkok gandum dan dibikinnya roti. Waktu azan tiba, mereka pun duduk mengelilingi hidangan untuk berbuka. Tanpa diduga pintu rumah diketuk orang. Rupanya seorang anak yatim yang meminta-minta. Roti itu mereka berikan pula kepada anak tersebut. Tak satupun makanan yang mereka makan malam itu selain air saja.

Di hari ketiga, fatimah menepung gandum yang masih tersisa, dibikinnya juga roti untuk berbuka. Namun ketika hendak berbuka, datang pula seorang tawanan mengetuk pintu. Seluruh makanan yang ada, mereka berikan kepadanya. Ketiganya bertahmid dan bersyukur kepada Alloh, karena mereka telah selesai menunaikan nazarnya.
Kejadian ini seperti yang terungkap dalam Al-Qur’an :

“Mereka mnyempurnakan nazarnya, dan mereka takut akan suatu hari yang azabnya merata dimana-mana. Dan Mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan tawanan, (sambil berkata),”sesungguhnya kami memberikan makanan kepadamu hanyalah mengharapkan keridhaan Alloh, kami tidak mengharapkan balasan dan terima kasih dari kamu.” (QS. Al-Insaan : 7 – 9).

Senin, 06 April 2009

BELAJAR DARI KEMATIAN



Kematian adalah peristiwa akbar yang akan menimpa siapa saja yang bernama makluk hidup. Cepat atau lambat kematian itu pasti akan tiba, yang membedakan hanya waktu, siapa yang akan dipanggil lebih dulu dan siapa yang masih ditangguhkan. Jatah untuk kearah panggilan itu masing-masing sudah jelas.

Dalam firman-Nya Alloh SWT menjelaskan urutan-urutan kepastian ini, yang diawali dengan mengingatkan asal-muasal kejadian manusia sebagai berikut :

“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari sesuatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang tersimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang-belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha Sucilah Alloh, Pencipta Yang Paling Baik. Kemudian sesudah itu, sesungguhnya kamu sekalian benar-benar akan mati.” (QS. Al-Mu’minun : 12 – 15)

Kita semua ini tidak lain adalah makhluk-makhluk yang sedang pasrah menunggu datangnya al-maut. Suka atau tidak suka, siap atau pun tidak siap kematian akan datang juga. Mungkin nanti, besok, lusa, atau bahkan setelah kita membaca dan merenungkan tulisan ini.

Karena kesibukan, orang sering dibuat lupa dengan sunatulloh ini. Kesibukkan sering mengantarkan orang lupa diri pada jadwal tetap yang pasti akan dialami. Kekagetan biasanya muncul setelah ada sanak saudara atau tetangga yang meninggal. Pada saat itu baru kembali muncul kesadaran bahwa panggilan bergilir kealam baqa masih terus berlanjut. Undangan kematian masih tetap datang. Anehnya, banyak informasi kematian yang diterima baik melalui televisi, majalah, maupun surat kabar, sering tidak menggetarkan hati, bahkan bernilai seperti hiburan. Berita perihal kematian – yang mengerikan sekalipun – tidak ubahnya dengan berita-berita yang lain seputar kasus politik dan kriminalitas. Misalnya kematian massal korban bencana Situ Gintung, ketika peristiwa itu baru terjadi hampir seluruh masyarakat bangsa ini terbelalak, menangis, histeris. Seolah tidak yakin kalau hukum kepastian ini juga berlaku bagi masyarakat di sekitar Situ Gintung, mereka meraung dan meratap.

Ratapan dan lolongan itu justru aneh, karena lupa dibalik itu masih ada jadwal panggilan untuk dirinya juga, sudah ada dihadapan matanya, sudah beberapa saat lagi tiba gilirannya. Maka benar kata ustadz Jefri (dalam wawancara di TV), bahwa ini semua hakekatnya adalah pelajaran yang berharga bagi yang hidup, sudah sejauh mana kita mempersiapkan diri menghadapi maut yang setiap saat mengintai kita?

Mengapa peristiwa kematian tidak banyak mengundang kesadaran? Padahal disana lengkap terpampang sejumlah mayat yang bergelimpangan, juga dengan uraian-uraian kejadian yang terkadang didramatisir media massa sehingga nampak begitu mengerikan.

Kejadian seperti itu tidak lain karena manusia sudah begitu lelah menghadapi kehidupan ini. Manusia telah disibukkan oleh berbagai kegiatan mencari penghidupan yang membuatnya lupa diri, dipadatkan oleh masalah yang bertumpuk. Masalah itu setiap hari semakin bertambah banyak. Karena kelelahan itulah hingga informasi yang datangya dari kampung akhirat bukan bernilai pendidikan dan peringatan lagi.

Berkaitan dengan masalah tersebut, salah seorang sahabat pernah bertanya kepada Rasululloh saw, “Ya Rasululloh, pesankan sesuatu kepadaku yang akan berguna bagiku dari sisi Alloh. “Nabi saw lalu bersabda, “Perbanyaklah mengingat kematian, maka kamu akan terhibur dari (kelelahan) dunia, dan hendaklah kamu bersyukur. Sesungguhnya bersyukur akan menambah kenikmatan Alloh, dan perbanyaklah do’a. Sesungguhnya kamu tidak mengetahui kapan do’amu akan terkabul.” (HR. Ath-Thabrani)

Ingat kepada kematian akan membuat manusia punya kendali. Pangkal dari lupa dan keserakahan sebenarnya dari sini, tidak ingat akan mati. Yang dibayangkan bagaimana bisa hidup lebih lama, bersenang-senang, dan dapat menghabiskan waktunya dengan bersuka-ria dengan leluasa. Kalau ada jatah, bahkan tidak menutup kemungkinan minta umurnya ditambah hingga seribu tahun.

Yang serakah bertambah serakahnya, yang rakus semakin rakus, dan yang zhalim semakin bertambah kezhalimannya. Kecenderungan kearah sana sangat dimungkinkan dimiliki oleh siapa saja, lebih khususnya oleh mereka yang lupa akan al-maut.

Rasululloh saw bersabda, “Cukuplah maut sebagai pelajaran (guru) dan keyakinan sebagai kekayaan.” (HR. Ath-Thabrani)

Seandainya kematian itu telah dipetik sebagai pelajaran (guru), hati manusia secara otomatis akan terkendali. Kecurangan, keserakahan, kesombongan, dan berbagai bentuk penyakit hati yang bersarang di hati dan pikiran akan dibunuh oleh takutnya pada kematian.

Sebagus apapun rupa, pada akhirnya akan binasa. Secantik bagaimanapun istri yang kita sayangi, anak yang kita kasihi, perhiasan dan istana yang ada, semua akan ditinggalkan juga. Semuanya akan diakhiri oleh kematian.

Karena hukum pasti-Nya ini, Nabiyulloh saw mengingatkan agar dalam pergaulan kita tidak mudah tertipu oleh bayang-bayang. Kita tidak boleh memvonis seseoranga itu baik atau jahat, beruntung atau celaka. Karena kunci dari semua itu adalah pada akhir perjalanannya.

“Janganlah kamu mengagumi amal seseorang sehingga kamu dapat menyaksikan hasil akhir kerjanya.” (HR. Ath-Thabrani)

Boleh jadi kita sering heran. Tidak jarang orang yang kelihatan baik-baik, rajin beribadah dan bepuasa di bulan ramadhan meninggal dalam keadaan bermaksiat. Sementara disisi lain kita juga menjumpai kasus yang tidak masuk akal, karena orang yang semula kita katakan brengsek, suka mengganggu lingkungan, bahkan dalam kalkulasi kita tidak pernah ada bayangan bakal mencium bau syurga sekalipun, justru mengakhiri hidupnya dengan husnul khatimah.

Tapi kasus seperti itu bukan untuk membuat kita ragu atau plin-plan. Pegangan hidup harus jelas. Menegakkan kepribadian islam sama sekali tidak boleh surut dengan menyebarkan nilai-nilai Al-Qur’an dan Sunnah Rasululloh saw untuk diri kita dan lingkungan. Karena Alloh tetap Maha Adil. Kalau Dia memutuskan untuk memberi hidayah terhadap seseorang, maka tentulah ada pada diri seseorang itu nilai yang baik yang layak sebagai landasan pemberian petunjuk itu. Ketentuan dan kehendak Alloh diluar kaidah apapun yang ditimpakan kepada manusia, hanya saja Dia menunjukkan cara yang bisa dipahami, misalnya dengan kaidah sebab akibat.

Semua itu terjadi atas kehendak Alloh terhadap makhluk-Nya agar sunnah-Nya dipelajari, direnungkan, dan dihayati apa makna-maknanya. Dan yang terpenting agar kita dijauhkan dari akhir kehidupan yang rugi dan sia-sia, su’ul khatimah. Marilah kita ingat sekali lagi, bahwa kita akan mati, dan mungkin saja itu terjadi besok pagi.

Jumat, 03 April 2009

JADILAH MUKMIN BAGAIKAN POHON

Salah satu yang harus kita pahami dari pohon adalah bahwa ia harus berhadapan dengan panas dan hujan, bahkan angin selalu menerpanya siang dan malam. Ini menunjukkan bahwa seorang mukmin harus menyadari bahwa ia akan selalu berhadapan dengan ujian yang tiada henti. Rasululloh saw. bersabda :
"Perumpamaan seorang mukmin adalah seperti pohon. Angin selalu menerpanya sehingga ia miring kekiri dan kekanan. Seorang mukmin senantiasa mengalami cobaan." (HR.At-Tirmidzi)
Ujian merupakan suatu kepastian yang harus dihadapi oleh setiap manusia, apalagi sebagai mukmin. Dengan ujian itu akan terbukti mutu atau kualitas keimanan seseorang, Alloh swt menegaskan hal ini dalam firman-Nya :
"Apakah manusia mengira bahawa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, 'kami telah beriman', dan mereka tidak diuji? Dan sungguh, kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka Alloh pasti mengetahui orang-orang yang benar dan pasti mengetahui orang-orang yang dusta." (QS. Al-Ankabuut : 2 -3)
Diantara hal yang harus kita sadari dari ujian adalah ia tidak hanya berupa hal-hal yang tidak menyenangkan. Tetapi, ujian bisa saja hal-hal yang menyenangkan. Sehingga, seorang mukmin yang sejati tidak mudah putus asa saat mengalami kesulitan hidup, dan tidak lupa diri saat mendapatkan kesenangan-kesenangan berupa harta, tahta, wanita, ilmu pengetahuan, popularitas, kemenangan, dan sebagainya. Alloh swt berfirman :
"Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan. Dan kamu akan dikembalikan hanya kepada Kami." (QS. Al-Anbiyaa : 35)

Ujian yang dihadapi dengan sikap istiqomah membuat seorang mukmin menjadi manusia yang menakjubkan. Rasululloh saw. bersabda :
"Aku mengagumi seorang mukmin. Bila memperoleh kebaikan, dia memuji Alloh dan bersyukur. Bila ditimpa musibah, dia memuji Alloh dan bersabar. Seorang mukmin diberi pahala dalam segala hal, walaupun dalam sesuap makanan yang diangkatnya ke mulut istrinya." (HR. Ahmad danAbu Dawud)
Menyadari ujian adalah merupakan suatu kepastian, maka sahabat Bilal bin Rabah menghadapi ujian itu dengan baik, sehingga ia tercatat sebagai orang yang istiqomah. Demikian juga dengan sahabat-sahabat yang lainnya. Lalu bagaimana dengan kita ? Mari kita berintrofeksi !

Jumat, 27 Maret 2009

BANGKRUT !

Alloh SWT. Berfirman :
Apakah manusia mengira,
Bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggung jawaban) ?
(QS. Al-Qiyamah :36)

Sesungguhnya hari kiamat akan datang
(dan) Aku merahasiakan (waktunya) agar tiap-tiap diri dibalas
Dengan apa yang diusahakannya.
(QS. Thaha : 15 )

Suatu ketika Rasululloh saw. Bertanya kepada para sahabatnya, “Tahukah kalian siapa orang yang bangkrut itu ?” Salah seorang sahabat menjawab, “Bagi kami orang yang bangkrut itu, adalah orang yang kehilangan harta dan seluruh miliknya.” Kata Rasululloh, bukan. Orang yang bangkrut itu ialah orang yang datang pada hari kiamat dengan membawa pahala dari seluruh amal salehnya, seperti dari puasanya, zakatnya, hajinya, ataupun wakafnya; tetapi ketika pahala-pahala itu akan ditimbang, datanglah orang-orang yang mengadu, “Ya Alloh, dahulu ia pernah menuduhku berbuat sesuatu, padahal aku tidak pernah melakukannya. Kemudian Alloh menyuruh agar ia membayar orang yang mengadu itu dengan sebagian pahalanya.” Kemudian datang lagi orang lain yang mengadu. “Ya Alloh, ia pernah mengambil hakku dengan sewenang-wenang. Lalu Alloh menyuruh lagi membayar dengan pahalanya kepada orang yang mengadu itu.” Setelah itu datang lagi orang yang mengadu; sampai akhirnya seluruh pahala shalat, haji dan puasanya itu, habis dipakai untuk membayar orang-orang yang pernah haknya ia rampas, yang pernah ia sakiti hatinya, ataupun yang pernah ia tuduh tanpa alasan yang benar.

Kini tidak ada lagi pahalanya yang tersisa, semuanya telah habis dipakai membayar hutang atas kelakuan zalimnya pada waktu ia hidup di dunia. Sementara itu, ternyata orang yang mengadu masih datang juga. Maka Alloh memutuskan agar dosa orang yang mengadu itu dipindahkan kepadanya sebagai tebusan atas kesalahan yang dilakukannya pada orang itu di dunia dahulu. Itulah orang yang bangkrut di hari kiamat, yaitu orang yang rajin beribadah tetapi dia tidak memiliki akhlak yang baik. Dia merampas hak orang lain dan banyak menyakiti hati saudara-saudaranya.”

Kisah ini memberi pelajaran pada kita, bahwa pada intinya tidak ada hutang yang tidak dibayar. Semua bentuk kezaliman yang kita lakukan, harus kita bayar tunai dengan pahala yang kita miliki di akhirat nanti. Itulah mungkin sebabnya Al-Qur’an dalam surat An-Nisaa’ ayat 111 mengatakan, “Barang siapa yang mengerjakan dosa, maka sesungguhnya ia mengerjakan untuk (kemadharatan) dirinya sendiri.” Atau dalam surat Al-Israa’ ayat 7, “Jika kamu berbuat baik, berarti berbuat baik bagi dirimu sendiri; dan jika kamu berbuat jahat, maka kejahatan itu bagi dirimu sendiri.”

Salah seorang sahabat Rasululloh yang terkemuka, yaitu sayidina Ali bin Abi Thalib penah mengatakan, “Hidup ini adalah suatu bagian dari mata rantai perjalanan yang harus dilalui manusia, yaitu bermula dari alam roh lalu menuju alam janin, kemudian alam dunia, lalu masuk ke dalam alam kubur, dan terakhir menetap abadi di alam akhirat. Orang yang bijak, akan menabung bekal sebanyak-banyaknya agar di akhir perjalanan nanti ia dapat bersenang-senang. Ia mengerti banar, bahwa tempat bersenang-senang itu bukan di perjalanan, tetapi nanti bila sampai ditempat tujuan. Orang bijak, tidak mau memanggul bekalnya sendirian, ia titipkan bekal-bekalnya pada orang lain sehingga ia dapat menempuh perjalanan ini tanpa repot-repot diganduli oleh perbekalannya.”

Ketika para sahabat yang lain bertanya pada sayidina Ali, “Wahai Ali, bagaimana caranya menitipkan bekal kepada orang lain itu?” Sayidina Ali pun menjawab, “Ketahuilah, bahwa tidak ada hutang yang tidak dibayar, bila seseorang menyakiti hatimu, maka ia harus membayarnya nanti dengan pahalanya. Begitu juga bila seseorang memfitnahmu, maka ia harus bayar perbuatan jahatnya itu dengan pahalanya. Atau, bila seseorang yang berhutang padamu dan ia tidak mau membayar hutangnya itu, kelak ia harus membayar hutangnya dengan pahalanya. Pokoknya, kezaliman orang terhadapmu, pada hakekatnya adalah tambahan pahala bagimu. Begitulah cara menitipkan bekal kita pada orang lain.”

Mudah-mudahan kisah ini dapat memberikan pencerahan bagi jiwa kita, bahwa perbuatan buruk yang kita lakukan akan sangat merugikan diri kita sendiri, karena diakhirat nanti harus kita bayar dengan pahala yang susah payah kita kumpulkan. Sebaliknya, tidak usah kita risau dengan perbuatan zalim orang lain terhadap diri kita, karena bukankah hal itu berarti ia membawakan perbekalan kita, yang kelak akan diserahkannya kepada kita di akhir perjalanan nanti?

Marilah kita berlomba-lomba mengumpulkan perbekalan sebanyak-banyaknya, dan semoga kita tidak menjadi budak yang kepayahan memanggul perbekalan milik orang lain.

(Sumber : Sentuhan Kalbu, Ir.Permadi Alibasyah)

QOLBUN SALIM

“Ingatlah, didalam tubuh manusia terdapat segumpal daging. Apabila ia baik, baiklah anggota tubuh dan apabila ia buruk, buruk pulalah tubuh manusia, ingatlah segumpal daging itu adalah hati.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Hati memiliki sifat seperti yang diisyaratkan oleh kata persamaannya yaitu qolbu. Kata qolbu berasal dari bahasa Arab yang berakar kata kerja qolaba yang mengadung arti membalik. Maka dari itu qolbupun memiliki kecenderungan untuk berbalik-balik atau bimbang, yaitu di suatu saat merasa senang, disaat lain merasa susah, disuatu waktu mau menerima dan suatu waktu menolak. Contoh yang sering kita rasakan adalah tentang naik turunnya kualitas keimanan kita, terkadang rajin dan bersemangat dalam beribadah tetapi terkadang berat dan malas melaksanakan ibadah. Memang hati tidak konsisten, kecuali hati yang mendapat bimbingan cahaya Ilahi. Dari sinilah damar (penerang) dibutuhkan bagi manusia.

Dari kandungan makna hadis di atas, bahwa yang menyebabkan manusia terbagi dua, ada yang baik dan tidak, kafir dan muslim adalah hatinya. Kenyataan memang menunjukkan bahwa baik tidaknya manusia sebenarnya bukan karena kebodohan dari segi intelektual. Apalagi sekarang terbukti dengan semakin banyaknya orang pintar, tetapi gagalnya manusia memanusiakan dirinya justru karena hilangnya dimensi batiniah atau karena hatinya yang sakit. Oleh karena itu, bagi kita tidak ada pilihan lain kecuali harus mencapai dan memiliki hati yang sehat (Qolbun Salim) dan dengan modal hati yang sehat inilah manusia nanti akan tenang dalam menghadap Alloh SWT. Sebagaimana do’a yang diucapkan Nabi Ibrahim a.s. didalam Al-Qur’an surat Asy-Syu’araa ayat 87-89 :

“Dan janganlah Engkau hinakan aku pada hari mereka dibangkitkan, (yaitu) dihari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang yang menghadap Alloh dengan hati yang bersih.”

Pertanyaan kita kemudian adalah bagaimana caranya agar kita bisa memiliki hati yang sehat (Qolbun Salim) ?

Langkah penting yang harus kita lakukan agar hati kita sehat adalah dengan memenuhi kebutuhan-kebutuhannya, sebagaimana badan kita memiliki kebutuhan. Sekurang-kurangnya ada tiga kebutuhan pokok dari hati kita yang harus selalu kita penuhi, yaitu :

1. Memelihara hati, dalam arti hati harus dipelihara kesehatannya agar jangan sampai terserang penyakit hati. Penyakit hati itu misalnya adalah hubud-dunya wakarahiyatul maut atau cinta dunia dan takut mati, hasad, zalim, dan sifat-sifat mazmumah lainnya. Apabila hati berhasil dipelihara, maka ia akan menjadi sarang kebajikan yang tiada henti, cahaya Ilahi akan menerpa seluruh ruang hatinya sehingga tidak ada kesempatan dan tidak ada tempat bagi lammah syaithoniah (bisikan syetan). Ia akan menjadi sangat sadar bahwa hati harus diisi hanya dengan nilai-nilai yang merupakan panggilan Ilahi yang tentu saja akan membawa kedamaian, kesejukan, dan ketenangan hati. Alloh SWT. Berfirman dalam Al-Qur’an surat Al-Fajr ayat 27-30 :

“Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jamaah hamba-hamba-Ku dan masuklah ke dalam surga-Ku.”
Di samping harus dipelihara seperti juga tubuh manusia, hatipun memerlukan santapan bagi kesehatannya. Bila hati tidak diberi santapan, maka jiwa manusia akan menjadi kering, akibatnya manusia tidak memiliki semangat hidup sebagaimana yang dikehendaki Alloh SWT. Lalu apa sebenarnya santapan hati atau makanan hati itu ? Pertama adalah zikrulloh, yaitu selalu ingat kepada Alloh dalam berbagai macam situasi dan kondisi, sehingga kita selalu merasa diawasi-Nya. Kedua, zikir dengan lisan yang berarti selalu menyebut nama Alloh, baik dengan membaca basmalah dalam setiap melakukan aktifitas, do’a sebelum dan sesudah melakukan sesuatu yang baik seperti makan, minum, tidur, bangun tidur, membaca A-Qur’an, dan sebagainya. Ketiga adalah zikir dengan amal dalam arti mengerjakan semua yang diperintahkan Alloh SWT. Berupa kegairahan beribadah dalam berbagai aspek kehidupan. Dengan selalu ingat kepada Alloh, maka manusia tidak akan menyimpang dari jalan Alloh dan mampu mencegah dirinya jatuh kelembah dosa. Alloh SWT. Berfirman :

“Hai orang-orang yang beriman, berzikirlah kepada Alloh, zikir yang sebanyak-banyaknyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan petang.”
(QS. Al-Ahzab : 41-42).

2. Menumbuhkan rasa syukur kepada Alloh SWT. Atas segala pemberian-Nya. Ungkapan rasa syukur itu harus dilakukan dengan tiga hal, yaitu :

a. Syukur dengan hati, yaitu mengakui bahwa segala nikmat dan kebahagiaan yang kita rasakan hakekatnya adalah berasal dari Alloh SWT.

b. Syukur dengan lisan, yaitu dengan memuji dan mengagungkan Alloh Sang peberi kenikmatan dan kebahagiaan dengan ucapan hamdalah.

c. Syukur dengan perbuatan, yaitu dengan mendayagunakan nikmat dan kebahagiaan yang Alloh berikan dijalan yang baik dan benar.

Dengan bersyukur, sekecil apapun nikmat dan kebahagiaan yang Alloh berikan akan diterimanya dengan hati yang senang, dan tidak ada pemberiaan Alloh yang disia-siakan.

3. Mengobati bila pada hati tersebut menderita penyakit. Hal ini tidak jauh berbeda dengan tubuh manusia atau benda, mungkin saja terjadi kerusakan pada hati manusia yang kemudian dikenal dengan istilah penyakit hati. Apabila manusia memiliki kecenderungan yang tinggi untuk melakukan kemaksiatan dan dia benar-benar memenuhi kecenderumgan itu, maka itu menjadi gambaran dari hati yang sakit. Bahkan penyakit hati itu akan semakin kronis bila kemaksiatan yang dilaksanakannya semakin banyak, apalagi manakala dia bangga dengan kemaksiatan yang dilakukannya itu.

Bagaimana cara menyembuhkan penyakit hati itu ? Menyembuhkan penyakit hati adalah dengan cara taubatan nasuha atau bertobat dengan sebenar-benarnya serta menumbuhkan perasaan senang bila melakukan hal-hal yang benar serta merasa hina bila melakukan kemaksiatan dan hal-hal yang salah, karena Alloh SWT. Sangat benci terhadap orang-orang yang senang melakukan perbuatan dosa. Sebagaimana firman Alloh dalam Al-Qur’an surat Al-‘Araaf ayat 40 :

“Sesungguhnya orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya. Sekali-kali tidak akan dibukakan bagi mereka pintu-pintu langit dan tidak (pula) mereka masuk surga, hingga unta masuk ke lubang jarum. Demikianlah kami memberi pembalasan kepada orang-orang yang berbuat kejahatan.”

Dengan demikian maka menjadi jelaslah bagi kita, bahwa memiliki hati yang sehat adalah merupakan sesuatu yang sangat penting bagi manusia. Dengan memiliki hati yang sehat maka kita akan terjaga dari perbuatan munkar, dan lebih menyukai perbuatan yang diridhoi oleh Alloh SWT. Semoga kita bisa menjaga hati kita masing-masing dari perbuatan yang dilarang Alloh SWT. Amiin.