Sabtu, 07 November 2009

KHUTBAH ‘IDUL ADHA 1430 H

“MENELADANI JEJAK LANGKAH NABI IBRAHIM AS. DAN KELUARGANYA”

{Disusun Oleh : Jalaluddin, S.Ag.}

(Konsep Khutbah pertama disesuaikan sendiri oleh pembaca)

Saudara-saudara kaum muslimin yang berbahagia.

Dengan rasa syukur yang tidak terhingga kepada Alloh Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang, dan sesuai dengan sunnah Rasulullah SAW. Kita sambut kedatangan ‘Idul Adha pada hari ini dengan Takbir dan Tahmid : “Allohu Akbar ! Allohu Akbar! Allohu Akbar! Laa Ilaaha Illalloh, Allohu Akbar! Allohu Akbar! Walillaahil Hamdu! “

Maha Besar Alloh, yang telah menjadikan alam semesta ini dengan segala apa yang terkandung di dalamnya dengan amat sempurna, tiada ada kekurangan, tiada ada cacat yang terkandung padanya.

Maha Pengasih dan Penyayang Alloh, yang telah mengutus Rasulnya yang terakhir untuk menjelaskan kepada ummat manusia, tentang arti dan tujuan hidup sebagai hamba-hambaNya yang mulia.

Maha Bijaksana Alloh, yang telah menjadikan hari raya ‘Idul Adha ini sebagai saat yang amat penting artinya bagi kita dalam peningkatan semangat dan ruh berqurban, dalam rangka pengabdian kita kepadaNya Tuhan seru sekalian Alam.

Pada hari ini, tanggal 10 zulhijjah, pada sat kita merayakan ‘Idul Adha di tempat ini, sejumlah kaum muslimin dari seluruh penjuru dunia yang mmencapai jutaan ummat manusia sedang berkumpul di kota Mina, di tanah Haram dalam rangka menunaikan ibadah haji, rukun islam yang ke lima.

Dengan patuh dan taat, dengan semangat pengabdian yang tinggi, mereka mengikuti segala aturan pelaksanaan ritul ibadah haji sebagaimana seharusnya dilakukan oleh tiap-tiap jamaah.

Pelaksanaan ibadah haji ini mengingatkan kita kembali kepada peristiwa yang terjadi beribu-ribu tahun yang lalu, yang menggambarkan semangat dan ruh berqurban seorang hamba Alloh yang saleh, yang tidak ada bandingannya yaitu Nabi Ibrahim as.

Diriwayatkan, bahwa beliau mendapat perintah dari Alloh SWT., supaya meninggalkan tempat kediamannya dan membawa keluarganya, istrinya Siti Hajar dan puteranya yang masih kecil Ismail ke suatu tempat yang didalam Al Qur’an disebutkan “Biwaadin ghairi dzi zar’in” suatu lembah yang tidak ada satu tanamanpun yang tumbuh, padang sahara yang gersang dan tandus.

Kemudian datang perintah berikutnya, yaitu Nabi Ibrahim harus meninggalkan mereka di tempat yang menakutksn itu. Berat rasanya untuk melakukan perintah ini, tetapi karena jiwa dan raga telah disediakan untuk mengabdi dan berbakti kepada Alloh, dengan ikhlas dan penuh tawakkal Nabi Ibrahim as. Meniggalkan istrinya dan anak yang amat dikasihinya itu. Tetapi sebelum berangkat meninggalkan mereka, terlebih dahulu beliau menyampaikan do’a serta permohonan kepada Khaliknya, Alloh Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang.

Ya Alloh, Ya Robbi ! Aku mohon kepadaMu supaya dengan bantuanMu keluarga tetap :

- Melaksanakan Shalat (liyuqiimush sholaata)

- Manusia tetap mencintai mereka (Faj’al afidatam minannaasi tahwii ilaihim)

- Dan mensyukuri karunia yang Engkau limpahkan kepada mereka (Warzuqhum minast tsamaraati la’allahum yasykuruun).

Saudara- saudara kaum muslimin yang berbahagia!

Perhatikanlah betapa indah dan tepatnya do’a ini dan sekaligus memberi petunjuk kepada kita, bagaimana seharusnya kita memulai langkah dalam mengatur dan mengurus kehidupan kita di dunia ini.

Nabi Ibrahim berkeyakinan bahwa hanya orang-orang yang baik hubungannya dengan Alloh, serta bak pula hubungannya dengan sesma manusia, yaitu orang-orang yang hidupnya adalah untuk mengabdi kepada Alloh SWT.

Hanya orang-orang inilah, orang-orang yang baik jiwanya serta sehat rohaninya yang akan dapat mensyukuri nikmat karunia Alloh dan dapat mempergunakan nikmat karunia itu dengan sebaik-baiknya, sehingga mendatangkan manfaat bagi semua pihak. Pembangunan suatu negara dan bangsa hanya akan berhasil dan sukses. Kalau manusia-manusianya baik jiwanya dan sehat rohaninya, tinggi cita-citanya, serta luhur budi pekertinya (moral).

Allohu Akbar! Allohu Akbar! Allohu Akbar! Walillaahil Hamdu!

Saudara-saudara kaum muslimin yang berbahagia.

Do’a Nabi Ibrahim as. Dikabulkan Alloh dan dengan kasih sayangNya, istrinya Siti Hajar dan puteranya Ismail terhindar dari mara bahaya dan mereka hidup dengan ridha Alloh Yang Maha Bijaksana.

Beberapa tahun sesudah itu, setelah Nabi Ibrahim kembali didapatinya puteranya Ismail telah menjadi seorang pemuda yang sehat badannya, baik rupanya dan luhur budi pekertinya, sifat-sifat yang menumbuhkan rasa cinta ayah dan bundanya.

Pada saat hati sedang tertumpah pada anak tunggal, yang sudah dapat membantu ayahnya mencari nafkah, maka pada saat itu datang pula perintah dari Alloh SWT. Agar Nabi Ibrahim mengurbankan Ismail si jantung hati si biran tulang.

Perintah inipun dihadapi oleh Nabi Ibrahim dengan penuh ketabahan dan dengan hati yang tidak ada keraguan sedikitpun, dipanggil putranya sambil berkata :

Yaa bunayya innii araa filmanaami annii adzbahuka fandhur maadzaataraa, yaa abati-f’al maa tu’maru satajidunii insyaa’allahu minash-shaabiriina.”

Artinya : Wahai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku mnyebelihmu, maka pikirkanlah apa pendapatmu? Ismail menjawab, wahai ayahku laksanakanlah apa yanh diperintahkan Alloh kepdamu, insya Alloh engkau akan dapati aku dari orang-orang yang taat dan sabar. (QS. Ash-Shofaat : 102).

Andaikan Ibrahim manusia yang dhaif, tentu akan sulit menentukan pilihan salah satu diantara dua yang memiliki keterikatan besar dalam hidupnya; Alloh atau Ismail. Berdasarkan rasio normal, boleh jadi Ibrahim akan memilih Ismail dengan menyelamatkannya dan tanpa menghiraukan perintah Alloh tersebut. Namun ternyata Ibrahim adalah sosok hamba pilihan Alloh yang siap memenuhi setiap perintahNya dalam bentuk apapun. Ia tidak ingin cintanya memudar kepada Alloh karena lebih mencintai putranya. Akhirnya ia memilih Alloh dan mengorbankan Ismail yang akhirnya menjadi syariat ibadah qurban bagi ummat Nabi Muhammad SAW.

Keta’atan yang tidak kalah teguhnya dalam menjalankan perintah Alloh adalah keta’atan Ismail untuk memenuhi tugas bapaknya. Pertanyaan besarnya adalah: “Kenapa Ismail, seorang pemuda yang masih mua belia menyerahkan jiwanya? Bagaimanakah Ismail sampai memiliki kepatuhan yang begitu tinggi?. Nabi Ibrahim senantiasa berdo’a : “Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku anak yang saleh” (Ash-Shaffat : 100). Maka Alloh mengabulkan do’anya: “Kami beri kabar gembira kepada Ibrahim bahwa kelak dia akan mendapatkan ghulamun halim(Ash-Saffat : 101). Inilah rahasia kepatuhan Ismail yang tidak lepas dari peran serta orang tuanya dalam proses bimbingan dan pendidikan. Sosok ghulamun halim dalam arti seorang yang santun, yang memiliki kemampuan untuk mensinergikan antara rasio dan akal budi tidak mungkin hadir begitu saja tanpa melalui proses pembinaan yang panjang. Sehingga dengan tegar Ismail berkata pada ayahandanya dengan satu kalimat yang indah: “Wahai ayah, laksanakanlah apa yang diperintahkan Alloh, niscaya akan mendapatiku seorang yang tabah hati, insya Alloh” (Ash-Shaffat : 102).

Orang tua mana yang tidak terharu dengan jawaban seorang anak yang ringan menjalankan perintah Alloh yang dibebankan kepada pundak ayahandanya. Ayah mana yang tidak terharu melihat sosok anaknya yang begitu lembut hati dan perilakunya mulia. Disinilah peran penting pendidikan keagamaan bagi seorang anak semenjak mereka masih kecil, jangan menunggu ketika mereka remaja apalagi dewasa. Sungguh keteladan Ibrahim bisa dibaca dari bagaimana ia mendidik anaknya sehingga menjadi seorang yang berpredikat “ghulamun halim”.

Lihatlah! Betapa hebat dan tingginya semangat berqurban dari seorang hamba Alloh yang sudah lanjut usianya dan seorang anak yang masih muda belia. Tidak sedikitpun hati mereka guncang dalam melaksanakan perintah Alloh, sekalipun harus berpisah dengan segala apa yang mereka cintai. Beginilah pengaruh jiwa Tauhid!.

Allohu Akbar! Allohu Akbar! Allohu Akbar! Walillaahi Hamdu!

Saudara-saudara kaum muslimin yang berbahagia.

Semangat inilah yang harus kita bangkitkan kembali dalam dada ummat islam, semangat kesediaan meninggalkan keduniawian yang sangat mengikat hati ini dalam upaya pengabdian kita kepada Khaliq Rabbul ‘Alamiin. Kesediaan berqurban untuk menegakkan amar ma’ruf nahi munkar, kesediaan berqurban untuk kepentingan orang lain, saling menyayangi dan sanggup mendengar serta memperhatikan sesama manakala ditimpa musibah.

Demikianlah ibadah haji dan qurban, bukanlah sekedar upacara tanpa makna dan nilai ruhani. Al-Qur’an mengkaitkan ibadah tersebut dengan kepasrahan diri kepada Alloh Tuhan Yang Maha Esa, dan dengan segala keteguhan serta ketabahan menderita didalam bertaqwa kepadaNya.

Dengan jelas Al-Qur’an menyatakan bahwa bukanlah daging atau darah hewan qurban itu yang sampai kepada Alloh SWT., melainkan taqwa, yakni kesediaan dan kesetiaan memenuhi perintah Alloh sajalah yang akan sampai ke hadiratNya.

Alloh berfirman di dalam Al-Qur’an:

“Lan yanaalalloha luhuumuhaaa walaadimaa ‘uhaa walaakin yanaaluhut-taqwaa minkum”

Artinya : Tak akan sampai kepada Alloh, baik daging maupun darah hewan qurban itu, melainkan yang sampai kepada Alloh adalah taqwa dari kalian. (QS. Al-Hajj : 37).

Oleh karena itu, kiranya sudah seharusnya apabila dalam kesempatan merayakan hari raya ‘Idul Adha ini, hendaknya kita perbaharui tekad kita untuk senantiasa meneladani jejak langkah tiga profil manusia besar, yakni Nabi Ibrahim, Siti Hajar, dan puteranya Ismail as.

Bagi kaum bapak, kiranya perlu senantiasa menjadikan Nabi Ibrahim as. sebagai tauladan. Ia adalah bapak yang sangat cinta kepada anak istrinya. Tetapi cintanya adalah cinta karena Alloh Tuhan Yang Maha Esa. Ia rela berpisah dengan anak istrinya demi berbakti kepada Alloh. Bahkan Ia rela mengorbankan cintanya yang sangat besar kepada anaknya demi melaksanakan perintah Alloh SWT. Syetan mengoda dan membujuk dirinya, tetapi tidak mampu menjerumuskannya ke jalan kesesatan. Memang dalam kenyataan hidup, orang sering kali harus memilih antara cinta kepada anak, keluarga atau harta disatu pihak, dengan cinta atau taqwa kepada Alloh SWT.dilain pihak, antara kesenangan sementara dengan kesenangan dan keselamatan yang kekal abadi.

Seringkali karena ingin mengejar harta dan memanjakan keluarga, seseorang kemudian melakukan tindakan yang menyeleweng atau melakukan tindakan yang tidak halal dan tidak legal. Dan islam mengajarkan bagaimana kita harus selalu menjauhkan diri dari segala bentuk penyelewengan dan kejahatan, dan sebaliknya taqwa kepada Alloh harus menjadi pegangan dalam menjalani kehidupan ini. Sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW :

“Ittaqillaaha haistummaa kunta”

Artinya : Bertaqwalah selalu kepada Alloh dimanapun engkau berada. (HR. Turmudzi)

Bagi kaum ibu, sungguh Siti Hajar adalah suri tauladan yang ideal. Ia adalah seorang istri yang sabar setia, dan ibu yang sangat bertanggung jawab terhadap keselamatan anaknya. Ia rela dan ikhlas berpisah dengan suami kalau itu adalah demi tugas suci dan bakti kepada Ilahi. Ia tabah dalam penderitaan dan rela berkorban kalau itu demi keselamatan anak dan bakti kepada Alloh SWT. Dia tidak tergoda oleh bujuk rayu syetan yang menjanjikan kesenangan diri dengan membelakangi perintah Alloh SWT.

Bagi bangsa indonesia yang sedang membangun, karena ingin segera mengembalikan negaranya dari keterpurukan dalam berbagai bidang kehidupan berbangsa dan bernegara, sungguh sangat penting bagi kaum wanitanya senantiasa meneladani jejak langkan Siti Hajar ini, karena pembangunan bagaimanapun memerlukan partisipasi semangat dan pengorbanan yang tinggi dari kaum wanita, sebagaimana yang dicontohkan oleh Siti Hajar. Wanita sebagai istri yang setia akan menciptakan stabilitas rumah tangga, wanita sebagai ibu yang pandai menjaga keselamatan anaknya akan melahirkan generasi muda bangsa yang sehat dan berakhlak mulia. Wanita sebagai kekasih suami yang tabah dan tahan menderita akan menciptakan suami yang jujur, disiplin, dan bertanggung jawab. Wanita dengan iman yang kuat akan menjadi tiang yang kokoh bagi negara dan bangsanya.

Karena itu Hukama berkata :

“Almar ‘atu ‘imaadulbilaad, idzaa sholahat sholahat waidza fasadat fasadat”.

Artinya : Wanita adalah tiang negara, bila ia baik maka baiklah negara dan bila ia rusak maka rusak pulalah negara.

Selanjutnya bagi generasi muda, hendaknya selalu mencontoh jejak langkah Ismail. Ia adalah pemuda remaja yang taat dan taqwa kepada Alloh dan bakti kepada kedua orang tuanya. Dan untuk itu Ia rela mengorbankan jiwa raganya. Sungguh pengorbanan Ismail adalah sangat besar, tetapi hal itu adalah demi tujuan yang besar pula. Memang untuk tujuan dan cita-cita yang besar, selalu diperlukan pengorbanan dan pekerjaan-pekerjaan yang besar.

Adalah kenyataan yang tidak bisa dipungkiri, bahwa sebagian dari generasi muda sekarang banyak mengorbankan waktu dan dirinya dengan sikap dan perilaku yang tidak ada gunanya. Mereka korbankan dirinya hanya demi narkoba, mereka pertaruhkan jiwa dan raganya guna menyalurkan emosi dan kehormatan semu dengan tawuran, mereka gadaikan dan jual harga dirinya bahkan aqidahnya hanya demi uang dan materi. Suatu fenomena yang sangat memprihatinkan dan perlu perhatian kita semua.

Dan bagi bangsa Indonesia yang bertekad meneruskan usaha pembangunan dan pembaharuan (reformasi) disegala bidang kehidupan, karya-karya besar dari generasi muda jelas sangat diperlukan. Karena pembangunan suatu bangsa bukanlah hanya tanggung jawab generasi tua atau mereka yang sekarang duduk di pemerintahan saja, akan tetapi pembangunan suatu bangsa adalah juga tanggung jawab generasi muda. Baik generasi tua maupun generasi muda bahkan anak-anak, semuanya ada dalam satu kesatuan wawasan kehidupan.

Bahkan kata hikmah menyatakan :

“Subbaanul yaum, Rijaalulghadi”

Artinya : Pemuda hari ini adalah pemimpin dihari esok.

Allohu Akbar! Allohu Akbar! Allohu Akbar! Walillaahil Hamdu!

Setelah selesai kita melakukan shalat ‘Idul Adha yang berbahagia ini, dalam jangka waktu empat hari kita disyari’atkan untuk menyebelih hewan qurban yang dagingnya dibagi-bagikan kepada fakir miskin. Penyembelihan hewan qurban ini seolah-olah merupakan tindakan simbolis dari tekad yang kuat untuk menyembelih dan menundukkan nafsu-nafsu hewaniah yang ada pada diri manusia, yang sering mendorong manusia ke arah perbuatan keji dan munkar.

Dan daging qurban dibagi-bagikan kepada fakir miskin adalah merupakan pernyataan uluran tangan kepada sesama manusia yang kurang mampu atau menderita. Memang dalam Al-Qur’an banyak sekali ayat-ayat yang mencela orang-orang yang tidak menghiraukan penderitaan dan kemiskinan orang lain. Dalam sebuah hadist junjungan kita Nabi Muhammad SAW. Bersabda :

Laisalmu’minul-ladzii yasyba’u wajaaruhu jaa i’un ‘alaa janbihi”

Artinya: Tidaklah termasuk orang-orang yang beriman, mereka yang kenyang, sedangkan tetangga di sebelahnya dalam kelaparan. (HR. Baihaqi).

Secara jelas hadist Nabi Muhammad tersebut, menyebutkan orang-orang yang tidak menghiraukan kelaparan tetangganya sedangkan ia sendiri dalam keadaan kekenyangan, sebagai orang-orang yang tidak beriman. Memang sikap mementingkan diri sendiri dan tidak peka terhadap nasib dan penderitaan orang lain adalah sikap yang sangat tercela serta berbahaya bagi kelangsungan dan ketertiban hidup masyarakat. Dalam kenyataan, dapat kita saksikan bahwa kericuhan, kekacauan, penyimpangan dan penyelewengan, kekejian dan kejahatan, adalah sumber dari hawa nafsu yang tidak terkendalikan serta tipisnya kesadaran sosial. Sebaliknya keselamatan manusia, baik sebagai orang seorang, sebagai masyarakat ataupun sebagai bangsa, adalah terletak pada mampu tidaknya ia menguasai hawa nafsu serta tinggi rendahnya kesadaran sosial yang dimilikinya.

Disini hari raya ‘Idul Adha kembali hadir untuk mengingatkan kita akan ketinggian nilai ibadah haji dan ibadah qurban yang sarat dengan pelajaran kesetiakawanan, ukuwah, pengrbanan, dan mendahulukan kepentingan dan kemaslahatan orang lain. Semoga akan lahir keluarga-keluarga Ibrahim berikutnya dari bumi tercinta Indonesia ini yang layak dijadikan contoh teladan dalam setiap kebaikan untuk seluruh ummat.

Saudara-saudara kaum muslimin yang berbahagia.

Demikianlah uraian khutbah ‘Idul Adha yang bisa saya sampaikan, mudah-mudahan ada guna dan manfaatnya bagi kita sekalian. Amiin.

Untuk itu marilah kita berdo’a kehadirat Alloh SWT. Semoga Alloh senantiasa memberikan rahmat, hidayah, inayah, serta ampunannya kepada kita semua didalam melaksanakan tugas sebagai khalifah di muka bumi ini.

Allahumma shalli ‘alaa sayyidinaa muhammadin wa’alaa aalihi wa ashhaabihi ajma’iin.

Allohummaghfir lilmuslimiina walmuslimaati walmu’miniina walmu’minaati al-ahyaa’i minhum wal-amwaati wayaaqaadhiyal-haajaati.

Allohumma Ya Rabbanaa, telah banyak engkau berkahi kami dengan rahmat karuniaMu, namun kami sering maksiat kepadaMu. Telah banyak Engkau penuhi kenikmatan hidup kami dengan kemurahanMu, namun kami sering ingkar dan tidak bersyukur kepadaMu. Telah banyak engkau tutup aib dan kekurangan kami dengan kemulianMu, namun kami sering kali menganiaya diri kami sendiri. Betapa banyak sudah dosa yang kami lakukan, betapa beratnya siksa yang akan kami tanggung, sehingga kami malu memohon kepadaMu. Namun kemana lagi kami harus mengadu dan memohon ampunan Ya Allloh, kecuali hanya kepadaMu.

Kami tidak putus harapan mengadu kepadaMu, kami tidak letih meminta dan mengharap kepadaMu. Betapapun besarnya kesalahan dan dosa kami, maaf dan ampunanMu meliputi segala sesuatu. Karena itu Ya Alloh, ampunilah segala dosa kami,hapuskanlah segala kesalahan kami, bersihkan hati dan jiwa kami, indahkan akhlak dan kelakuan kami, sambungkan kembali persaudaraan diantara kami, angkatlah bangsa kami Ya Alloh dari jurang kehinaan, berilah kami pemimpin yang mampu membimbing kami kearah kebaikan, dan tunjukkan bagi kami jalan keselamatan dunia dan akhirat agar kami tidak tersesat. Engkau maha mendengar dan Maha mengabulkan. Kabulkanlah do’a dan permohonan kami.

Alloohumma innaa nas’alukal-‘afwa wal-‘aafiyah, wal-mu’aafaata d-daa’imah, fid-diini wa d-dunyaa wal-aakhirah, wal-fauza bil-jannah, wa n-najaata minan-naar.

Allohumma innaa nas’aluka muujibaati rahmatik, wa’azaa’ima maghfiratik, was-salaamata min kulli itsm, wal-ghaniimata min kulli birr, wal-fauza bil-jannah, wan-najaata minan-naar.

Rabbanaa aatinaa fid-dunyaa hasanah, wafil-aakhirati hasanah, waqinaa’adzaaban-naar, wa’adkhilna l-jannata ma’al-abraar, yaa’aziiz, yaa ghaffaar, yaa rabbal-‘aalamiin. Walhamdulillaahi rabbil’aalamiin.

(Yang biasa menggunakan khutbah dua, mohon disesuaikan).

Keterangan :

Khutbah ini dibuat oleh almarhum ayahanda tercinta Drs. KH. Uho Syarifuddin, pernah disampaikan pada pelaksanaan shalat ‘Idul Adha di Alun-alun Pemda Kab. Subang, ketika beliau masih bertugas di Departemen Agama Kab.Subang. Dan telah di edit serta ada penambahan dan penyesuaian oleh penyusun. Semoga menjadi amal shaleh bagi almarhum yang telah mengabdikan dirinya untuk dakwah. Amiin.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar