Jumat, 27 Maret 2009

BANGKRUT !

Alloh SWT. Berfirman :
Apakah manusia mengira,
Bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggung jawaban) ?
(QS. Al-Qiyamah :36)

Sesungguhnya hari kiamat akan datang
(dan) Aku merahasiakan (waktunya) agar tiap-tiap diri dibalas
Dengan apa yang diusahakannya.
(QS. Thaha : 15 )

Suatu ketika Rasululloh saw. Bertanya kepada para sahabatnya, “Tahukah kalian siapa orang yang bangkrut itu ?” Salah seorang sahabat menjawab, “Bagi kami orang yang bangkrut itu, adalah orang yang kehilangan harta dan seluruh miliknya.” Kata Rasululloh, bukan. Orang yang bangkrut itu ialah orang yang datang pada hari kiamat dengan membawa pahala dari seluruh amal salehnya, seperti dari puasanya, zakatnya, hajinya, ataupun wakafnya; tetapi ketika pahala-pahala itu akan ditimbang, datanglah orang-orang yang mengadu, “Ya Alloh, dahulu ia pernah menuduhku berbuat sesuatu, padahal aku tidak pernah melakukannya. Kemudian Alloh menyuruh agar ia membayar orang yang mengadu itu dengan sebagian pahalanya.” Kemudian datang lagi orang lain yang mengadu. “Ya Alloh, ia pernah mengambil hakku dengan sewenang-wenang. Lalu Alloh menyuruh lagi membayar dengan pahalanya kepada orang yang mengadu itu.” Setelah itu datang lagi orang yang mengadu; sampai akhirnya seluruh pahala shalat, haji dan puasanya itu, habis dipakai untuk membayar orang-orang yang pernah haknya ia rampas, yang pernah ia sakiti hatinya, ataupun yang pernah ia tuduh tanpa alasan yang benar.

Kini tidak ada lagi pahalanya yang tersisa, semuanya telah habis dipakai membayar hutang atas kelakuan zalimnya pada waktu ia hidup di dunia. Sementara itu, ternyata orang yang mengadu masih datang juga. Maka Alloh memutuskan agar dosa orang yang mengadu itu dipindahkan kepadanya sebagai tebusan atas kesalahan yang dilakukannya pada orang itu di dunia dahulu. Itulah orang yang bangkrut di hari kiamat, yaitu orang yang rajin beribadah tetapi dia tidak memiliki akhlak yang baik. Dia merampas hak orang lain dan banyak menyakiti hati saudara-saudaranya.”

Kisah ini memberi pelajaran pada kita, bahwa pada intinya tidak ada hutang yang tidak dibayar. Semua bentuk kezaliman yang kita lakukan, harus kita bayar tunai dengan pahala yang kita miliki di akhirat nanti. Itulah mungkin sebabnya Al-Qur’an dalam surat An-Nisaa’ ayat 111 mengatakan, “Barang siapa yang mengerjakan dosa, maka sesungguhnya ia mengerjakan untuk (kemadharatan) dirinya sendiri.” Atau dalam surat Al-Israa’ ayat 7, “Jika kamu berbuat baik, berarti berbuat baik bagi dirimu sendiri; dan jika kamu berbuat jahat, maka kejahatan itu bagi dirimu sendiri.”

Salah seorang sahabat Rasululloh yang terkemuka, yaitu sayidina Ali bin Abi Thalib penah mengatakan, “Hidup ini adalah suatu bagian dari mata rantai perjalanan yang harus dilalui manusia, yaitu bermula dari alam roh lalu menuju alam janin, kemudian alam dunia, lalu masuk ke dalam alam kubur, dan terakhir menetap abadi di alam akhirat. Orang yang bijak, akan menabung bekal sebanyak-banyaknya agar di akhir perjalanan nanti ia dapat bersenang-senang. Ia mengerti banar, bahwa tempat bersenang-senang itu bukan di perjalanan, tetapi nanti bila sampai ditempat tujuan. Orang bijak, tidak mau memanggul bekalnya sendirian, ia titipkan bekal-bekalnya pada orang lain sehingga ia dapat menempuh perjalanan ini tanpa repot-repot diganduli oleh perbekalannya.”

Ketika para sahabat yang lain bertanya pada sayidina Ali, “Wahai Ali, bagaimana caranya menitipkan bekal kepada orang lain itu?” Sayidina Ali pun menjawab, “Ketahuilah, bahwa tidak ada hutang yang tidak dibayar, bila seseorang menyakiti hatimu, maka ia harus membayarnya nanti dengan pahalanya. Begitu juga bila seseorang memfitnahmu, maka ia harus bayar perbuatan jahatnya itu dengan pahalanya. Atau, bila seseorang yang berhutang padamu dan ia tidak mau membayar hutangnya itu, kelak ia harus membayar hutangnya dengan pahalanya. Pokoknya, kezaliman orang terhadapmu, pada hakekatnya adalah tambahan pahala bagimu. Begitulah cara menitipkan bekal kita pada orang lain.”

Mudah-mudahan kisah ini dapat memberikan pencerahan bagi jiwa kita, bahwa perbuatan buruk yang kita lakukan akan sangat merugikan diri kita sendiri, karena diakhirat nanti harus kita bayar dengan pahala yang susah payah kita kumpulkan. Sebaliknya, tidak usah kita risau dengan perbuatan zalim orang lain terhadap diri kita, karena bukankah hal itu berarti ia membawakan perbekalan kita, yang kelak akan diserahkannya kepada kita di akhir perjalanan nanti?

Marilah kita berlomba-lomba mengumpulkan perbekalan sebanyak-banyaknya, dan semoga kita tidak menjadi budak yang kepayahan memanggul perbekalan milik orang lain.

(Sumber : Sentuhan Kalbu, Ir.Permadi Alibasyah)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar